Sabtu, 28 Juli 2012

Contoh cerpen bertema ekonomi :





Kuputuskan Berhenti Sekolah Demi Adikku”

          Pagi senin sekitar jam 06.30 aku menuju ke teras rumah mungilku , kupandangi anak-anak SMA seusia ku  yang sedang ingin berangkat ke sekolah “andai aku masih sekolah mungkin aku akan berangkat ke sekolah bersama mereka” gumamku di dalam hati . “Kak Puteri, kok masih  disana ? kok belum siap-siap  jualan ?”, suara Dina adikku terdengar keras di dekat telinga ku, dengan serantak menyadarkan ku dari lamunanku  “eh kamu ngagetin aja, iya ini udah mau siap-siap kok” jawabku dengan setengah kaget. “Kakak ngeliatin anak-anak SMA itu ya?” Tanya Dina kepadaku, “e e enggak kok” jawabku gugup “maafin Dina ya kak, gara-gara Dina kakak jadi enggak sekolah” ujar Dina sambil memegang tanganku , ‘ah kamu apa-apaan sih, itukan memang sudah menjadi keputusan kakak jadi kamu enggak perlu  minta maaf, ini udah jam berapa ? berangkat sana gih” ucapku sambil tersenyum padanya,”yaudah kak, Dina berangkat dulu ya kak” Dina pun berangkat ke sekolah.

Kami berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ibuku seorang penjual keripik keliling, dan ayahku sudah meninggal 2 tahun silam akibat penyakit yang dideritanya, dulu ayahku seorang supir angkot. Semenjak ayah ku meninggal keuangan keluarga kami semakin menipis, melihat itu semua aku pun memutuskan untuk berhenti sekolah dan menyuruh agar Dina saja yang sekolah, jika aku masih  sekolah sekarang aku berada di kelas 2 SMA, sebagai anak pertama aku harus dewasa karna aku tahu penghasilan emak sangat tidak seimbang dengan semua kebutuhan keluarga kami, untuk makan dan membayar biaya sekolah Dina, emak pun harus utang sana dan sini. Untuk uang tambahan aku membantu emak  menjual es keliling di sekitar stasiun kereta api, untuk menuju ke stasiun kereta api tersebut tiap hari aku harus berjalan 1km dulu baru aku tiba di sana. Kami hanya mempunyai 1 alat transportasi yaitu sepeda butut itu pun dipakai untuk emak menjual keripik.

“emak, Puteri jualan dulu ya” aku pun pamit pada emak, “Put, maafin emak ya kamu tidak bisa menikmati masa remaja kamu seperti anak-anak remaja seusia kamu” ujar emak  , “ah bagi Puteri itu tidak penting mak, yang penting keluarga kita rukun dan senang Puteri sudah sangat senang kok mak” jawab ku pada emak, emak pun langsung memelukku dan berkata “kamu memang anak yang baik put”, “itu sudah menjadi kewajiban Puteri mak , yaudah Puteri berangkat dulu ya mak ”, “hati-hati ya nak” ujar emak sambil melepaskan pelukannya.

Setelah berjalan 1km aku pun tiba di Stasiun Kereta Api tersebut, aku pun segera keliling dan mendekati anak-anak kecil, karna biasanya anak-anak kecil lah yang sering membeli es dagangan ku. Untung nya cuaca hari ini cukup panas jadi es dagangan ku sangat laku dan terjual habis. Hasil penjualan es ku hari ini 35.000 , karna waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 aku pun segera pulang. Setibanya aku di rumah aku pun segera sholat dzuhur dan setelah itu aku memberikan uang hasil penjulan es ku tadi kepada emak “ini mak uang hasil penjualan es Puteri tadi mungkin uang ini bisa dipakai untuk membeli buku sekolah Dina mak” ujar ku pada emak, “iya Put kebetulan tadi Dina mintak uang pada emak untuk membeli buku sekolahnya” jawab emak pada ku “yaudah, kita makan yuk mak” ajakku pada emak “maaf Put emak sudah makan duluan bersama Dina tadi, karna penyakit magh emak tadi tiba-tiba kambuh” ucap emak padaku, “oh tidak apa-apa mak, yaudah emak sekarang istirahat saja ke kamar” jawabku pada emak “iya Put” emak pun menuju ke kamar yang biasa menjadi tempat tidur kami bersama-sama, karena rumah kami yang sempit kami hanya memiliki 1 buah kamar tidur.

Aku pun segera ke dapur dan makan , lauk tempe dan sambal terasi pun aku sudah sangat lahap karna bagiku  tempe dan sambal terasi  tidaklah menjadi penghalang makan ku. Setelah makan, aku pun menghidupkan radio yang biasa dipakai ayah ku ketika ia masih hidup, tembang-tembang lawas dari radio itu pun sudah cukup menghibur diriku                                  
                                           

karya : Indi kurniati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar